Rabu, 30 Januari 2013

Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Daya Konsentrasi Anak



Ini cerita saya, Bunda.
Anwar dan Yahya, mereka dua buah hati saya dengan karakter berbeda. 

Anwar, 5 tahun tipikal anak kalem. Sepanjang pertumbuhannya Anwar hampir tidak membuat saya repot. Dia anteng saat memegang mainan. Anwar juga anak penurut. Ia tidak mau mendekati barang-barang yang saya larang mendekatinya. 
         Di usianya yang ketiga, Anwar senang menonton televisi. Melalui iklan televisi, ia hapal merek-merek produk. Hal itu memancing ide di benak saya. Saya mencoba menuliskan kembali merek-merek produk itu dengan tulisan saya sendiri di selembar kertas. Hasilnya, Anwar bisa menyebutkan kembali merek-merek tersebut. Hal itu mengantarkannya pada kemampuan membaca di umur 3,5 tahun.   

Anwar selalu ingin tahu berbagai informasi

           "No body perfect", itu kata pepatah. Tidak ada manusia yang sempurna. Demikian pula dengan seorang anak, termasuk Anwar. Untuk kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda dan main bola, Anwar susah diajari. Anwar cepat menyerah ketika dia merasa kesulitan.


         Lain dengan Anwar, lain pula Yahya, 2,5 tahun. Yahya anaknya aktif. Setiap aktifitas dilakukan dengan berlari atau melompat. Dia tidak pernah menangis saat jatuh. Paling meringis dan kembali berlari.
        Dengan keadaan Yahya seperti itu, saya betul-betul 'prepare'. Pertimbangannya karena khawatir pada keselamatan Yahya, juga supaya saya tidak lebih repot dengan hasil perbuatannya. Yahya suka mengacak isi lemari baju, membuka kran dispenser, bermain sabun, menggunting rambutnya, mencoret-coret dinding, memanjat dan masih banyak hal ‘merepotkan dan berbahaya’ lainnya.

Yahya, anaknya aktif dan pemberani
Melihat Yahya, saya pernah khawatir kalau Yahya mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Yahya susah sekali dibujuk atau diminta perhatiannya.
Eh, tapi tunggu dulu! Di usianya yang kedua, Yahya saya belikan mainan lego dan pasel. Ternyata ia asyik sekali memainkannya. Di usia sekarang, Yahya pun dengan cepat bisa memainkan sepeda roda tiganya. Saya lega karena hal itu jelas menunjukkan bahwa Yahya tidak memiliki gangguan dalam konsentrasi. 





Pelajaran yang saya ambil dari kasus kedua anak saya tersebut antara lain:
  • Ternyata setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda.
  • Anak lebih mudah konsentrasi pada sesuatu yang diminatinya.
  • Orang tua berkewajiban membantu anak untuk menemukan dan mengembangkan minat dan bakatnya.
  • Orang tua harus melatih dan menstimulus anak dalam mengoptimalkan daya konsentrasinya di berbagai bidang dengan cara bertahap dan tidak memaksa anak.
  • Konsentrasi yang optimal akan membantu anak belajar maksimal.

Menurut literatur yang saya baca, ternyata daya konsentrasi dipengaruhi faktor-faktor seperti lingkungan, psikologis dan kondisi fisik anak.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, saya senantiasa terus berupaya memberikan pengasuhan yang terbaik. Saya juga belajar mengasah kepekaan diri untuk mengetahui berbagai ketidaknyamanan yang dirasakan anak. Sedangkan untuk masalah gizi, saya berusaha memperhatikan asupan makanannya. 


Salah satu asupan yang bisa meningkatkan kondisi fisik anak adalah susu. Saat ini banyak sekali produk susu dijual di pasaran. Adalah bijaksana apabila saat membeli susu, kita memperhatikan dulu kandungan yang dimiliki produk susu tersebut. Hal ini sangat penting karena akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak kita.

Anmum Essential, Susu Pertumbuhan Bergizi Lengkap Tanpa Gula Tambahan

          Anmum Essential adalah produk susu yang saya pilih. Anwar saya beri Anmum Essential 4. Sedangkan Yahya saya beri Anmum Essential 3.
Selain mengandung zat-zat gizi utama seperti karbohidrat, protein, lemak, multivitamin, kalsium dan serat yang berguna bagi pertumbuhan anak, dalam Anmum Essential 3&4 terkandung gangliosida, asam sialat, DHA, asam amino dan asam lemak esensial yang berperan penting dalam perkembangan otak anak.
Penting juga untuk kita ketahui bahwa Anmum Essential 3&4 tidak mengandung gula tambahan yang bisa menyebabkan karies gigi, obesitas dan menurunnya daya konsentrasi anak.


Nah, bagaimana dengan Bunda? Pasti kita ingin yang terbaik untuk anak-anak kita, bukan? Saya berharap, semoga sharing saya ini bisa bermanfaat bagi semua.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition Anmum Bunda Inspiratif bersama IIDN (Ibu-ibu DoyanNulis)


*****


Saya dan buku Emak Gokil (buku hasil karya anggota IIDN)
 Link Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis: https://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/

20 komentar:

  1. Bunda, bagaimana sih caranya Anwar bisa lancar membaca di usia 3,5 tahun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Linda, atas kunjungannya.
      Anwar bisa membaca di umur 3,5 tahun, awalnya karena anteng lihat iklan di televisi. Tapi saya nggak rela lho ngebiarin Anwar gitu aja di depan TV :)
      Makanya ketika Anwar mulai menyebutkan nama-nama produk saya langsung keidean menuliskan kembali di selembar kertas.
      Setelah itu Anwar jadi ketagihan ingin dituliskan terus kata-kata lain. Akhirnya saya tuliskan nama-nama benda yang ia kenal. Mungkin dari hapal bentuk kata, akhirnya ia jadi tahu cara pengucapan setiap bentuk kata. Dari situ, Anwar bisa menebak sendiri kata-kata apa yang tertulis di berbagai tempat.
      Namun, tentu saja, bisa jadi minat dan bakat Anwar memang di situ. Jadi bagi dia segalanya terasa lebih mudah.
      Selain itu, saya juga sangat memperhatikan asupan makanannya seperti memberi ikan dan susu yang mengandung unsur gizi untuk perkembangan otak.

      Hapus
    2. Terima kasih atas sharingnya ya, Bun. Kapan2 saya boleh tanya2 lagi kan? :)

      Hapus
    3. Sama2. Mau tanya lagi, boleh kok :)

      Hapus
  2. Bu, bisa tolong jelaskan, kenapa gula tambahan pada susu bisa menyebabkan menurunnya daya konsentrasi anak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut sumber yang saya baca, konsumsi gula pada anak itu harus dibatasi karena bisa menyebabkan rasa lemas dan mengantuk, Pak. Tentu dalam keadaan seperti itu, anak tidak akan maksimal belajar.

      Hapus
  3. Menarik kisah si abang-adik ini. Bisa beda banget karakternya. Wah, kalo udah bisa potong rambut sendiri yahya gak perlu ke tukang pangkas deh.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... justru sebaliknya, mbak. Jadinya malah digundul tuh sama tukang cukur.
      Btw,makasih atas kunjungannya ya... :)

      Hapus
  4. salam kenam mba yas marina...pasti seru ya punya dua anak laki-laki balita ...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak Rina.
      Seru, 'seru' banget hehe...
      terima kasih atas kunjungannya :)

      Hapus
  5. Ok nih, jd ingat buat gak banding2in. Minat dan bakat anak berbeda, tiap anak unik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget,Mbak Murti.
      Btw, makasih ya atas kunjungannya :)

      Hapus
  6. setujuuuuu...... setiap anak beda karakter dan minatnya, sehingga masing-masing mempunyai kelebihan yang berbeda.

    Hebat ibu @Yas Marina, Semoga Anwar dan Yahya menjadi anak soleh yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh... jadi malu tulisan saya dibaca Bu Maria. Terima kasih Bu, sudah berkenan berkunjung ke blog saya. Terima kasih juga atas doanya, amiin... :)

      Hapus
  7. Balasan
    1. Amiiin.... Makasih banget Kang Alee sudah meluangkan waktu berkunjung :)

      Hapus
  8. Artikelnya bagus. Terima kasih atas pencerahannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah berkunjung :)

      Hapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...