Kamis, 01 Agustus 2013

[GA: AKU DAN POHON] Salah Panggil



Di halaman rumah nenekku yang luas, tumbuh pohon rambutan yang cukup besar dan rindang. Hampir seluas halamannya tertutup oleh daun dari pohon rambutan tersebut. Bagiku dan sepupuku, Early, kadang-kadang keberadaan pohon itu cukup mengesalkan. Pasalnya, kamilah yang bertugas menyapu daun-daunnya yang berguguran.

Tapi, setiap yang kita lakukan pasti ada imbalannya. Melihat apa yang kami lakukan *walaupun agak terpaksa*, Emak *panggilan kami pada nenek* tidak pernah pelit dengan buah-buahan yang beliau miliki. Misalnya, ketika pohon rambutan itu berbuah lebat. Begitu aku merengek ingin segera memakan buah rambutan tersebut, Emak menyuruhku memanggil orang untuk memetik rambutan.

“Panggilin Mang Emuh, ya. Nanti kamu boleh makan sepuasnya,” kata Emak.

Tanpa membantah, aku segera mengajak Early ke rumah Mang Emuh. Aku tahu rumahnya, pikirku. Mang Emuh kan yang punya warung. Aku sering disuruh mamahku beli krupuk di warung yang dijagain Nyai Sari, istrinya Mang Emuh. Selain itu, Mang Emuh adalah paman dari teman sekelasku, Imas. Beberapa kali aku bertemu dengan Mang Emuh saat bermain bersama Imas.

Sampai di rumah Mang Emuh.

“Punten.” Aku mengucapkan salam khas Sunda.

“Mangga,” jawab Nyai Sari yang sedang sibuk membuat adonan bakwan.

“Nyai, saya disuruh Emak. Kata Emak, tolong supaya Mang Emuh metikin rambutan di rumahnya,” ujarku.

Nyai Sari tidak segera menjawab permintaanku. Sepertinya ia malah memikirkan sesuatu. Tiba-tiba muncul Mang Emuh dari ruangan lain. Nampaknya ia mendengar ucapan kami.

“Ada apa, Neng?” tanya Mang Emuh ramah.

“Kata Emak, Mang Emuh diminta metik rambutan.”

Aku melihat Mang Emuh berpandang-pandangan dengan Nyai Sari. Sampai akhirnya dia menjawab, “Baik, nanti Emang ke sana.”

Dengan suka cita, aku segera kembali ke rumah Emak. Sudah terbayang di benakku, aku bakal menikmati buah rambutan Emak yang dikenal sangat manis sekali rasanya.

Setelah memberi laporan pada Emak bahwa Mang Emuh bersedia memetik rambutan, tanpa firasat apapun, aku pun pamit pada Emak untuk berangkat ngaji.

Sepulang ngaji, Early menemuiku dan memberikan kabar ala breaking news. Mengagetkan!

“Yas, tahu tidak kalau Emak marah sama kita?”

“Hah? Kok bisa sih?” tanyaku heran.

“Iya, soalnya Mang Emuh yang dimaksud Emak bukan Mang Emuh yang kita panggil. Jadi dari tadi Emak ngomel terus. Kayaknya dia merasa malu deh. Soalnya, Emak kan tidak kenal sama Mang Emuh yang itu,” terang Early.

“Waduh! Habis Emak nggak ngejelasin juga Mang Emuh yang mana,” kelitku.

“Ya, pokoknya kejadiannya begitu.”

“Tapi jadi kan Mang Emuh yang kita panggil metik rambutan?”

“Ya jadi sih. Mang Emuh-nya kan udah datang ke Emak. Masa Emak bilang nggak jadi. Pasti Emak tambah malu.”

“Hihi… iya juga yah. Tapi aku jadi nggak berani nemuin Emak.”

“Eh, jangan gitu dong. Kasihan sama Emak. Setidaknya dengan ngomelin kamu, mungkin hati Emak bisa sedikit lapang,” ujar Early terkekeh.

Akhirnya…

Walau dengan berat hati, aku menemui Emak. Yah, sedikit diomelin sih. Tapi lumayan terbayar dengan manisnya buah rambutan.



Sekarang, pohon rambutan Emak dan seluruh kisahnya tinggal kenangan saja. Sejak Emak wafat, rumah dan pohon rambutannya bukan milik keluarga kami lagi. Rumah tua Emak pun sudah berubah menjadi tempat produksi sarang burung wallet.
 



Yuk Kenalan dengan Pohon dan Buah Rambutan
  
Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata "rambutan" berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.

Buah rambutan terbungkus oleh kulit yang memiliki "rambut" di bagian luarnya (eksokarp). Warnanya hijau ketika masih muda, lalu berangsur kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna putih, menutupi "daging". Bagian buah yang dimakan, "daging buah", sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas.


Jenis Tanaman Rambutan 

Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi. Dari sejumlah jenis rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan dibudidayakan diantaranya:

1) Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak jarang, daging buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal.

2) Rambutan Aceh Lebak Bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya, kulit buah berwarna merah kuning, halus,rasanya segar manis-asam banyak air dan ngelotok.

3) Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan agak jarang, rasa manis, sedikit berair.

4) Rambutan Binjai buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis dengan asam sedikit, daging buahnya ngelotok.

5) Rambutan Sinyonya warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat, rasa buah manis asam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.



Kandungan Gizi dan Manfaat Buah Rambutan

Di dalam buah rambutan tersimpan khasiat obat yang tak ternilai harganya. Menurut kajian pakar tanaman obat, buah rambutan memuat besi, kalium, sampai vitamin C. Dalam setiap 100 gram (sekitar 3 buah rambutan) terkandung 69 kalori, 18,1 gram karbohidrat, serta 58 mg vitamin). Kadar serat rambutan juga cukup tinggi, sekitar 2 gram per 100 gram berat buah. Karakter buah seperti ini cocok dikonsumsi orang-orang yang tengah berdiet menurunkan atau menjaga berat badan.

Bagian tumbuhan ini yang dapat digunakan sebagai obat adalah kulit buah digunakan untuk mengatasi disentri dan demam, kulit kayu digunakan untuk mengatasi sariawan, daun digunakan untuk mengatasi diare dan menghitamkan rambut, akar digunakan untuk mengatasi demam, dan biji digunakan untuk mengatasi kencing manis (diabetes mellitus).



Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Rambutan
http://agromaret.com/post/jenis_tanaman_rambutan/91217113620
http://www.itd.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=316:kandungan-gizi-dan-manfaat-buah-rambutan&catid=40:health-news&Itemid=113


Tulisan di atas diikut sertakan pada Lomba  “Give Away Aku dan Pohon”



14 komentar:

  1. sama, di rumah nenek saya juga ada pohon rambutan xixix semoga sukses GA nya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur banget ya, orang tua yang tanam, kita ikut menikmati hasilnya :)
      Terima kasih, mbak Rina :)

      Hapus
  2. Teh Yas, setting cerita saya tentang aku dan pohon juga di rumah nenek nih. Nenek kita memang TOP deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... iya Mbak. Bersyukur banget kita memiliki kenangan-kenangan indah itu :)

      Hapus
  3. Wah Mbak.., poto rambutannya menggiurkan banget. pohon rambutanku enggak begitu buahnya, walau rasanya manis..
    Kenangan indah itu selalu mebekas ya Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu foto dapet browsing di google, Mbak. Pasti dipilih yang paling sip dong hehe... Kalau rambutan nenek saya lebatnya mirip-mirip rambutan di foto itu sih. Sayangnya, sejak Nenek meninggal, rumah dan pohon rambutannya sudah bukan milik keluarga kami lagi :)

      Hapus
  4. Pohonnya bukan gambar pohon aslinya ya? Padahal udah mupeng banget lihat buahnya merah-merah gitu. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pohonnya sih pohon asli :D
      Tapi, bukan asli pohon milik nenek saya hehe....

      Hapus
  5. Emak baik, biar marah tetep ngasih rambutan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... sayang cucu...sayang cucu... :D

      Hapus
  6. Huaaa, ini buah favorit saya waktu di kampung halaman. Bapak punya kebun rambutan samping rumah. Jadi kalo buah, woooow deh, pokoknya. Bisa gelantungan tiap hari di pohon rambutan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... anak-anak saya suka banget rambutan. Kini suka gelantungan juga di pohon rambutan kakeknya (ayah saya) :)

      Hapus
  7. cucunya jg ga mau nanya dulu sich, mang emuh yg mana. Main panggil aje hehe

    di rumah jg ada 1 pohon, sekarang lagi ga berbuah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan sama kayak neneknya, main percaya aja sama anak kecil haha...
      Wah, kirim2 dong kalo berbuah ;)

      Hapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...