Jumat, 16 Juni 2017

Sahabat Beda Usia


Tujuh tahun sudah saya tinggal di komplek perumahan di kawasan Bandung Timur ini. Saya merasa betah karena dekat dengan sekolah anak-anak, dekat dengan fasilitas umum, luas tanahnya cukupan, kontur tanah rata, suhu udaranya pas dan banyak faktor lainnya. Kabarnya komplek perumahan ini dibangun sudah sejak lama. Awalnya merupakan komplek perumahan untuk tentara. Namun saking lamanya, orang-orang yang menempati sekarang kebanyakan sudah bukan berprofesi tentara lagi. Ada yang tinggal istrinya, anaknya, cucunya atau malah sudah dijual ke masyarakat umum.
Ketika awal tinggal di sana, sebagai orang baru tentu saya masih merasa kaku. Meski begitu saya berusaha mendekati tetangga di kanan kiri untuk menjalin silaturahmi. Syukurlah tetangga di sini baik-baik. Mereka langsung mengajak saya mengikuti pertemuan para ibu-ibu PKK di lingkungan RT. Sekalian arisan, ujar mereka.
Di tempat arisan, saya lebih banyak diam karena khawatir salah bersikap. Hampir semua ibu-ibu yang hadir di sana umurnya jauh di atas saya. Rata-rata mereka sudah punya cucu. Sedangkan saya waktu itu, anak paling besar pun baru menginjak kelas 1 SMP.
Waktu terus berjalan dan alhamdulillah hubungan saya dengan tetangga semakin baik. Akhirnya dalam 2 tahun ini saya diberi tugas menjadi sekretaris PKK di RT. Semakin kesini, anak-anak semakin besar, waktu saya cukup luang, saya pun menambah aktivitas di luar rumah. Walaupun ya baru sekitaran rumah saja sih. Selain mengikuti pertemuan PKK, saya pun mengikuti kegiatan majelis taklim di lingkungan RT. Ternyata peserta majelis taklim 99% sudah pada sepuh semua. Ya tidak apa-apa. Itu tidak menghalangi saya untuk belajar agama.

Namun tanpa disangka, 6 bulan lalu saat pergantian kepengurusan, saya malah ditunjuk menjadi ketua majelis taklim. Waduuh...ilmu agama saya masih pas-pasan kok ya dipilih memimpin ibu-ibu yang sudah pada pandai ngajinya? Apalagi ibu-ibu yang saya pimpin sudah sepuh-sepuh. Saya jadi merasa melangkahi mereka. Lalu dapatkah saya terus membina hubungan baik dengan para ibu sepuh tersebut? Tapi kata mereka, biarlah yang muda saja yang memimpin supaya tertib administrasinya. Ibu ustadzah yang mengisi pengajian pun terus meyakinkan saya bahwa saya mampu bersosialisasi dengan ibu-ibu yang sudah sepuh ini.
Tinggal di lingkungan dengan tetangga-tetangga yang lebih tua dari kita, memang perlu beberapa trik supaya hubungan tetap nyaman. Diantaranya inilah yang saya lakukan:
Pertama, posisikan diri kita sebagai anak. Anggap tetangga sebagai ayah dan ibu kita. Banyak tetangga saya yang anaknya sudah menikah dan tidak tinggal bersama mereka lagi. Nah, keberadaan kita setidaknya bisa menghilangkan kesepian mereka di hari tuanya. Apa yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya? Berkunjung, menanyakan kabar mereka, mengajak bicara, merangkul, meminta nasihat, mendengarkan cerita-ceritanya dan berbagai pendekatan personal.
Kedua, maklumi karakternya sebagai orang tua. Orang tua biasanya merasa lebih berpengalaman. Saat kita mendapat suatu kejadian, mereka biasanya berpendapat lebih banyak dan merasa pendapatnya paling benar. Jika kita tidak setuju, tidak perlulah kita membantah. Kita cukup mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Toh mereka tidak akan intervensi pada kebijakan rumah tangga kita. Sebenarnya mereka tahu, kita keluarga yang berbeda dengan mereka, yang memiliki aturan hidup sendiri. Jadi jangan terlalu khawatir.
Ketiga, sekali-kali memberikan perhatian dengan pemberian-pemberian kecil yang ada di rumah kita. Sebetulnya ini berlaku bagi kehidupan bertetangga secara umum. Mengirim masakan, membagi oleh-oleh dari luar kota, berbagi makanan acara syukuran, dll. Tapi kalau saya lihat, reaksi orang tua itu lebih terlihat terkesan saat mereka diberi dibanding kita memberi pada orang-orang yang lebih  muda. Mungkin orang tua lebih melihat kepada perhatian kita yang tidak melupakannya. Atau karena mereka sudah tua sehingga tidak tahu hal-hal terbaru atau jarang kemana-mana. Sehingga ketika mereka mendapat sesuatu, mereka menganggap sebagai hal besar. Entahlah, yang pasti mereka seperti lebih terkesan.

Nah, kemarin juga saya datang berkunjung ke tetangga sepuh terdekat, Ibu Suci untuk memberi dan memperlihatkan produk teh yang saya konsumsi, Teh Kepala Djenggot.
Begitu melihat kemasannya, Ibu Suci langsung berkomentar, “Oh ini sih teh sehat!”
Ya di usia senja tentu banyak berbagai keluhan penyakit yang mendera tubuh seperti kolesterol, osteoporosis, jantung koroner, stroke, kanker hingga alzheimer dan parkinson. Nah, teh ini merupakan salah satu solusi untuk menjaga kesehatan dengan cara menghambat datangnya penyakit-penyakit tersebut. 
Teh yang memiliki nama latin Camillia Sinesis ini memiliki kandungan Catechin Antioxidant yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan memperkuat kekebalan tubuh.
Teh Kepala Djenggot diambil dari tiga daun pucuk teh yang ditanam di perkebunan teh dengan ketinggian di atas 1.250 meter dari permukaan laut. Pada ketinggian ini, tanaman teh tumbuh lebih lambat sehingga dapat mempertebal rasa, aroma dan kandungan unsur-unsur yang ada pada daun teh.
Menurut sebuah penelitian di Journal Obesity, pada tahun 2011 disebutkan bahwa ekstrak teh hijau mampu menghambat pembentukan lemak dalam tubuh. Dengan catatan, ekstrak teh hijau diseduh dan dikonsumsi langsung. Baik berupa teh seduh maupun teh celup. Daun teh hijau yang diseduh, memiliki konsentrat EGCG yang tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker kandung kemih, payudara, paru-paru, perut, pankreas, dan kanker kolorektal; mencegah penyumbatan arteri, membakar lemak, melawan stress oksidatif pada otak, mengurangi risiko gangguan saraf seperti Alzheimer dan Parkinson, mengurangi risiko stroke, dan menurunkan kadar kolesterol. Jika teman-teman ingin tahu lebih dalam tentang Teh Kepala Djenggot atau ingin melihat pengalaman orang-orang dengan Teh Kepala Djenggot, cobalah klik link ini.

Saya baru sadar ternyata Teh Kepala Djenggot sudah dikenal orang sebagai teh sehat, atau sebut saja sehatea. Seperti Ibu Suci, tetangga sepuh saya yang sudah sehatea (sehati) dengan saya. Sehati dengan tetangga menjadikan kehidupan terasa lebih nyaman, sehat lahir batin.
Nah, bagaimana dengan teman-teman? Punyakah pengalaman bersama sahabat yang “berbeda namun #sehatea”? Bagi dong ceritanya di komentar sini atau di blog pribadimu. Mudah-mudahan ceritamu bisa menginspirasi semua orang.

2 komentar:

  1. saya juga penggemar teh hijau kepala djenggot mbak. Ngobrol sama temen yang pas dihati, sambil minum teh panas memang paling pas ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba...tambah ngemil-ngemil deh hehe...

      Hapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...